Kisah Berhijab, Niat Baik Harus Di Segerakan

Kisah Berhijab, Niat Baik Harus Di Segerakan


Idul fitri tahun 2016 ini adalah tahun ke 10 aku memutuskan untuk berhijab. Di usia ku yang ke 26 tahun hidayah berhijab itu pun menyapa dan membawaku pada satu keputusan yang berat kala itu. Ya aku merasa masih terlalu muda memutuskan berhijab. Dengan kondisi yang masih tak menentu dan belum jelas jalan hidup. Saat itu fitnah menghampiriku dan dengan sepontan aku menyatakan, apakah aku harus berhijab ????

Sobat wanita, kamu pasti senang ketika banyak lelaki yang menggoda mu. Atau ketika banyak pujian yang datang mengatakan kamu cantik, manis dan ciut. Namun tidak dengan ku. Yah mungkin karena memang aku tak cantik. Aku juga gerah ketika ada beberapa laki-laki yang datang kemudian mengatakan bahwa dia suka padaku.

Pertama karena aku tak suka pada orang itu, yang kedua ketika itu aku memang belum mau menjalin hubungan dengan siapa pun. Prinsip hidupku, kalau aku belum mau menikah ya belum mau dekat dengan laki-laki. Aku juga tidak seperti orang kebanyakan yang suka pacaran lalu gonta ganti, kemudian merasa bangga banyak di sukai laki-laki. Ah.......

Sobat wanita, taukah kalian apa yang menyebabkan aku mengambil keputusan untuk berhijab ???? Entah apa yang terjadi ketika itu, tetiba ada beberapa laki-laki yang bertemu denganku lalu ada yang titip salam dan tiba-tiba jatuh cinta, aduhai. Tapi tak satu pun laki-laki itu adalah tipe pilihanku, atau masuk dalam daftar laki-laki idaman. Rasa takut pun membuat enggan keluar rumah. Beribu pertanyaan menyerang otak namun tak satu pun ada jawabannya.

Berhari-hari aku bingung dan terus bertanya "ada apa dengan ku?" Salah satu dari laki-laki itu begitu gigih mendekati. Walau belum menyatakan rasanya, tapi risih dengan sikapnya padaku. Sempat juga khawatir dia akan main magic jika dia sakit hati, atau jika tak bisa mendapatkan dengan cara baik, maka akan menggunakan cara magic itu, ih serem ya Allah. Dia kira aku akan tertarik dengan uang dan kalung emas yang dia gunakan . Bahkan dia sempat pamer uang gajinya padaku, yang dengan itu dia fikir aku akan klepek-klepek hisk hisk. Norak....

Siang hari aku berkunjung ke rumah teman. bukan  tanpa maksud, ingin curhat. Sedang cerita -cerita, lalu sang suami dari temanku berkata.
" mau terhindar dari fitnah?," katanya
"apa itu," jawabku.
"Nikah, agar tidak ada fitnah," Hemmm berat itu, fikirku.
"Mau nikah sama siapa, aku juga belum siap jika harus menikah sekarang," jawabku lagi. Lalu aku pun berujar "apa aku harus berhijab, biar jauh dari fitnah!!," kataku lagi.
Temanku dengan cepat berkata "itu juga bagus, siapa tau dengan berhijab justru laki-laki baik yang datang mendekat,"
"tapi aku kan belum jadi orang baik, ketawa masih suka ngakak enggak jelas. Sholatku juga masih bolong-bolong. Aku masih sangat jauh dari kata baik. Nanti kalau berhijab hanya mempermalukan agama saja," kataku panjang lebar.
" loh siapa tau dengan berhijab kamu pelan-pelan belajar memperbaiki diri. Berhijab enggak harus menunggu jadi baik dulu," jawab temanku yang bernama mbak Wulan.


Sepanjang perjalanan pulang aku berfikir keras, apa aku harus berhijab ??!!! Ah belum siap juga jika harus berhijab. Aduh kenapa jadi begini hidupku kacau banget rasanya waktu itu. Secara ya aku tuh suka kepanasan, dirumah kalau enggak ada kipas angin rasanya dunia puuuaaanas banget.

Belum lagi kalau berkeringat, keringatku juga banyak. Bukan handuk kecil yang jadi pengering keringat yang keluar, handuk mandi yang besar pun menjadi kalungan. Huhp bagaimana kalau harus menggunakan baju panjang dan serba panjang tertutup dari atas hingga ke bawah. Ayoyo oi bagaimana ini. Semalaman aku berfikir keras sambil tanya jawab sendiri pada diri. Dengan semua alasan, akal ku masih saja menolak dengan logika yang salah.

'Aku kan masih muda, nanti bagaimana aku mau banyak gaya. Ah enggak usah lah nanti aja. Bagaimana dengan rezekyku, nanti kerja bagaimana? ' Lalu aku pun teringat kisah Zazkia Aditya Meca, yang juga mengalami hal yang sama ketika hendak memutuskan berhijab. Alasan masih muda dan rezeky menjadi patokan berhijab menjadi penghalang.

Uh masih belum mantab berhijab. Lalu teringat lagi kisah dari artis Cici Tegal, yang berhijab karena melihat mayat seorang wanita yang telanjang tanpa sehelai benang pun. Dia berkata "alangkan mulus dan sepertinya sangat terawat kulit dan tubuhnya ketika hidup. Tapi sayang ketika mati Allah justru membiarkan mayatnya tanpa ada yang menutupi tubuhnya. Allah biarkan auratnya di lihat semua orang. Alangkah kematian yang buruk fikirnya. Cici Tegal berkata aku tak ingin hanya merawat tapi harus di tutupi agar ketika aku mati dalam kondisi Allah jaga auratku. Masih belum juga akal ku kalah. Tetap saja jawabnya Tidak.

Seharian aku tak keluar rumah bahkan tidak membuka pintu sekali pun. Masih bertengkar dengan diri, mencari jawaban dan berperang, mana keputusan yang baik. Sampai menjelang berbuka puasa, aku mendengarkan kultum di radio Batam fm di 100.7. Dengan tema "niat baik harus di segerakan" Alkisah sang penceramah berkata, Niat yang baik harus di segerakan, jangan tunggu besok, nanti atau tahun depan, karena kita tak pernah tau kapan Allah datang menjemput kita kembali.

Salah satu contoh, saya bertemu pengusaha muda yang sukses dan sehat. Saya bertanya padanya apakah sudah pergi haji ?? Beliau menjawab nanti dulu pak tunggu tuaan dikit, sekarang masih belum siap. Lalu apa yang terjadi ??!!! Ketika gempa melanda jogja dia dan istri serta kedua anaknya meninggal dengan belum pergi haji. Padahal beliau mampu secara materi dan kesehatan. Kita tidak pernah tau apakah 5 menit dari sekarang kita masih hidup atau tidak. Jadi jika punya niat baik segerakan, karena kita tidak pernah tau kapan kematian menjemput,"

Seketika itu juga aku menangis dan takjub, runtuhlah tembok kesombonganku karena akal yang masih menyangkal. Semua alasan yang tadi masih kekeh menahanku, hancur sudah. Ya Allah aku sambut hidayah mu yang datang menjemputku.

Esok hari aku keluar rumah dengan penampiln baru, walau masih dengan mengunakan kaos oblong besar dengan lengan yang masih di bawah siku. Bismillah aku berhijab dengan perlahan memperbaiki yang belum baik. Berhijab bukan menunggu jadi baik, tapi justru akan jadi baik dengan berhijab. Perlahan namun pasti, walau di rumah aku tetap mengenakan hijab, sebab hijab itu bukan di kenakan ketika bepergian, tapi hijab untuk menutup aurat mu dari laki-laki yang buka mahrom.

Sehelai rambut yang terlihat oleh laki-laki yang bukan mahram, maka di hitung satu dosa, lalu bagaimana jika setiap hari seluruh rambutmu di lihat lelaki yang bukan mahrom ???. Mampukah sholatmu menebus dosa yang setiap hari terjadi ??? Bisakan sedekah dan amalan yang lainnya menghapusnya. Wow


Menutup aurat wajib hukumnya, artinya dikerjakan berpahala, di tinggalkan berdosa. Harus dan tak punya pilihan lain. Sama seperti hukum sholat yang wajib. Sesungguhnya Allah memberikan ketetapan hukum karena itu baik bagi mu. Hidayah itu di jemput bukan di tunggu, maka ketika ia datang jemputlah dan jangan biarkan hilang.
Previous
This is the oldest page

3 komentar

Click here for komentar
10 Juli 2016 19.30.00 GMT+7 ×

semoga makin mantap ya mbak...

Reply
avatar
asih kasih
admin
10 Juli 2016 23.15.00 GMT+7 ×

Aamiin insya Allah mba Avy

Reply
avatar
asih kasih
admin
10 Juli 2016 23.17.00 GMT+7 ×

Aamiin insya Allah mba Avy

Reply
avatar
Thanks for your comment